Tabir Kesunyian

30 06 2009

Aku berjalan menyusuri jalan itu kembali. Masih kulihat tonggak batu itu berdiri tegak di tempatnya. Selalu diam dalam sunyi selama berabad-abad lamanya. Diam..dan tetap diam tanpa pernah beranjak sedikitpun. Ada timbul rasa aneh dalam hatiku saat aku menatap batu itu. Aku seperti bisa merasakan sunyi yang teramat dalam pada batu tersebut. Yaa..dia hanya diam..diam..dan tetap diam seperti tak pernah ada kehidupan.

Aku lanjutkan kembali perjalananku. Kali ini melewati jalan setapak yang berkelok-kelok. Di kiri dan kanan jalan banyak tumbuh ilalang liar. Dia bergerak bergoyang-goyang diterpa tiupan angin. Terus bergerak dan bergerak mengikuti irama angin yang menyentuhnya. Aneh..pikirku…. Ilalang ini juga sama seperti batu yang tadi aku temui. Ilalang ini bergerak tapi tetap saja tak pernah pergi kemana-mana. Dia hanya bergerak tapi hakekatnya masih tetap diam di tempat. Hmmm..dua wujud yang berlainan namun masih tetap menanggung beban takdir yang sama. Sama-sama diam dalam kesunyian.

Aku lalu melanjutkan perjalananku. Menyusuri jalan-jalan sunyi tanpa makna. Berjalan kesana kemari tanpa tujuan yang pasti. Berputar-putar tak tentu arah..mengikuti langkah kakiku yang semakin letih. Kembali aku berpikir.. Sepertinya ini pernah aku rasakan. Aku jadi kembali teringat akan batu dan rumput ilalang tadi. Aku dan mereka sepertinya tak ada bedanya. Sama-sama hidup dalam lingkup ruang kosong tanpa batas. Aku memang sedikit lebih beruntung dari mereka. Tapi ternyata nasibku pun tak ada bedanya dengan batu dan ilalang tersebut. Kami sama-sama hidup dalam ruang sunyi..kosong..dan hampa. Aku memang bisa bergerak dan berjalan kesana kemari. Tapi sebenarnya aku tetap saja tak pernah pergi kemana pun. Aku hanya berputar-putar di tempat ini. Tempat yang membelenggu kami para makhluk. Belenggu yang tak pernah kami lihat..namun begitu kuat mencengkeram hidup kami. Kami..hanya hidup dalam kesunyian yang semu.


Tindakan

Information

29 tanggapan

30 06 2009
Mr.o2n

Ups gua jadi kmentator nmr wahidni he,he,he,kerentuh postingannya,tapi jgn terlalu disamakan anda dgn batu atau ilalang ya,karna sifat batu itu keras dan padat sementara sifat ilalang emang lembut tapi sering menusuk dan mengiris.salam

30 06 2009
30 06 2009
KangBoed

hmm..
Dalam hampa dan sunyi diri
Nampaklah kebesaran Illahi
Membuat diri tertunduk pasrah
Dalam ketiada dayaan sangat

Mencoba masuk ke dalam diri
Mengerti sebenar benarnya diri
Terhanyut dalam penyerahan
Masuklah dalam Diam tanpa kata

Salam Sayang
Saudaraku

30 06 2009
30 06 2009
oyot tana

pengin juga ngungkapin perasaan dg gaya bhs y seperti posting ini. bisa gak ya aku..

30 06 2009
30 06 2009
omiyan

setidaknya kita masih bisa bersyukur mas…

30 06 2009
30 06 2009
Jaya

sungguh dalam maknanya…
paling tidak kita manusia diberi kelebihan dengan akal dan pikiran. Sehingga bisa menentukan keinginan dan arah perjalanan kita
tidak seperti batu dan ilalang yang menempel di tanah hingga ada sesuatu yang memindahkannya

1 07 2009
1 07 2009
yoan

masih saja mencari makna…

kasi tau ya kalo udah ketemu :mrgreen:

1 07 2009
1 07 2009
achoey

kesunyianmu kesunyian akan kerinduan pencerahan
maka, segera berbagilah dengan riuh dzikir di pagi, siang dan malam

1 07 2009
1 07 2009
genial

seharusnya, jika membaca kalimat terakhir… akangnya uda jd org yg senang berkecukupan nii…. trs apa lagi yg jd masalahnya?!?!?!?

2 07 2009
1 07 2009
guskar

kadang kita perlu mencari kesunyian, untuk menemukan jati diri

2 07 2009
2 07 2009
ernalilis

Sunyi, damai, hangat semuanya ada didalam hati sahabatku.. Maka jangan biarkan hatimu kosong karena dunia ini terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja..

2 07 2009
2 07 2009
achoey

kau adalah sahabatku
:)

2 07 2009
2 07 2009
oyot tana

jadi pengin nyontek gaya bhasanya nich..

2 07 2009
2 07 2009
udienroy

wah kata-katanya mantep tenan nich. jadi pen ikutan nulis

2 07 2009
2 07 2009
baezur

Mas Har seorang sastrawan juga ya…
kata2nya puitis banget.

2 07 2009
13 07 2009
abindut

Walah mas hari tulisan semakin dalam ya..
kata-katanya benar enak dibaca…
Keep writing mas…

Tinggalkan komentar